Isu reshuffle kabinet bukan lagi soal kebutuhan, tetapi soal keberanian yang selama ini terlihat belum benar-benar diuji. Publik tidak butuh sinyal, publik butuh tindakan.
Dalam sistem presidensial, Presiden memiliki kuasa penuh untuk memilih dan mencopot pembantunya. Jika kabinet masih diisi oleh figur yang bekerja tanpa arah, lamban, atau sekadar menjaga posisi, maka masalahnya bukan hanya pada menteri, tetapi pada keberanian Presiden itu sendiri.
Prabowo Subianto tidak bisa terus bersembunyi di balik alasan stabilitas politik. Stabilitas yang dibangun di atas kompromi berlebihan bukanlah kekuatan, melainkan ilusi yang menunda kegagalan.
Mari jujur, sebagian menteri hari ini bukan solusi, tetapi sumber stagnasi. Minim terobosan, lemah koordinasi, dan gagap membaca arah kebijakan Presiden. Mereka bukan sekadar tidak efektif, mereka menghambat.
Dan setiap hari mereka dipertahankan, itu adalah hari di mana negara berjalan lebih lambat dari seharusnya.
Ini bukan lagi soal etika politik, bukan soal balas jasa, dan bukan soal menjaga perasaan koalisi. Ini soal tanggung jawab terhadap rakyat. Presiden dipilih untuk memimpin, bukan untuk menoleransi ketidakmampuan di lingkar terdekatnya.
Lebih berbahaya lagi, reshuffle yang setengah hati justru mengirim pesan keliru, bahwa ketidakmampuan masih bisa dinegosiasikan, bahwa kinerja bisa dikompromikan, dan bahwa kekuasaan ragu menggunakan otoritasnya sendiri.
Dalam situasi global yang penuh tekanan dan dinamika domestik yang semakin kompleks, keraguan bukan lagi kesalahan kecil, itu adalah kemewahan yang mahal dan berisiko.
Jika memang ada menteri yang gagal, copot. Jika ada yang tidak sejalan, ganti. Jika ada yang menjadi beban, singkirkan. Sesederhana itu.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mencatat alasan-alasan politik di balik keraguan. Sejarah hanya mencatat satu hal, apakah seorang Presiden berani membersihkan barisannya sendiri, atau justru membiarkan pemerintahannya tersandera oleh kompromi.
Reshuffle bukan pilihan. Itu sebenarnya ujian untuk pemerintahan Prabowo Gibran untuk bisa betul – betul mewujudkan Indonesia Gemilang Terbilang.
*Sayed Junaidi Rizaldi
- Ketua Umum Rembuk Nasional Aktifis 98
- Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta
Ikuti UtusanNews.id di Channel WhatsApp
Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung melalui WhatsApp Anda.
🟢 IKUTI CHANNEL





