Sinar mentari menembus kabut kelam
Selimut keseharian kota metropolitan
Bulan purnama membelai anak jalanan
Tertidur beratap awan di bawah jembatan
Inikah kemajuan selama kemerdekaan
Inikah hasil membangun kesejahteraan
Walau demikian
Cahaya lentera memberikan secercah harapan
Namun kenyataan yang dihadapi
Cahaya lentera dalam ironi
Tak mampu lagi menerangi semua relung hati
Hanya mereka yang mendapat panghilan suci
Yang bekerja dengan tuntunan nurani
Yang berjuang bukan untuk identitas diri
Namun mereka semakin langka dijumpai
Ketika erosi melanda bumi pertiwi
Etika dan moral terkikis korupsi
Keteladanan terpenjara kebohongan narasi
Kepemimpinan terperangkap kepentingan pribadi
Pandemi penyakit hati
Setiap hari menjadi sarapan pagi
Tersaji dalam berita televisi
Rutinitas yang harus dibeli
Menjadikan hati pedih tak terperi
Pantulan nurani terhalang tirai emosi
Ketika cahaya lentera memberi harapan
Memberikan tuntunan bagi kemaslahatan
Membuka cakrawala pengetahuan
Menunggu peran cendekiawan
Membangun harmoni kemanusiaan
Menanam benih kebersamaan
Merawat irama persahabatan
Berlomba berbuat kebajikan
Merenungkan diri dalam keramaian
Mensucikan hati di tengah kegaduhan
Kehidupan dunia yang menawan
Penuh tantangan
Hambatan dan cobaan
Kau kejar kebahagiaan
Kau raih semua impian
Berlomba dengan kawan
Berkongsi menurut kepentingan
Bersaing dan bertaruh karena kekuasaan
Mencari celah kesempatan
Membeli gelar demi kedudukan
Menumpuk kekayaan menggalang relawan
Dalam gemerlap kehidupan malam
Mengajak berjoget di lorong kelam
Berpesta narkoba tak kunjung usai
Semua transaksi serba tunai
Hati diingatkan namun tetap abai
Cahaya lentera tak lagi mampu menggapai
Ketika angin dingin menerpa
Membisikkan suara nurani kesekian kalinya
Menembus hati menyentuh rasa
Mengingatkan jiwa yang sedang lupa
Yang terjebak dalam pelukan fana
Yang terperangkap sangkar kuasa
Yang terbuai indahnya singgasana
Mengais tambang meraup harta
Punglipun merajalela
Dunia yang sementara
Gemerlapnya mahligai istana
Seakan dimiliki untuk selamanya
Ruang dan waktu telah menyandera
Tak ingat ketika saat akan tiba
Semua berhenti tanpa perlu bicara
Ketika jalanan menjadi panggung pagelaran
Para politisi mengajak pertemanan
Suara rakyat menjadi rebutan
Dukungan sampai di bilik pencoblosan
Serangan fajar menjadi andalan
Bansos menjadi candu peradaban
Menjadikan malas dan ketagihan
Menjauh dari mencerdaskan
Semakin akrab dengan pembodohan
Rakyat menjadi obyek pembagunan
Suara didulang demi batas aman
Etika dan moral diabaikan
Saling sikut-sikutan tak ingat kawan
Janji manis ditebarkan
Membawa bendera anti kemiskinan
Memakai lambang pertumbuhan
Korupsi berjamaah menjadi trend pergaulan
Urat malu terputus oleh keserakahan
Lupa akan keluhuran
Peradaban kemanusiaan
Tak ingat mandat yang diberikan
Tepa selira hilang dalam kemaksiatan
Cahaya lentera masih tersisa di ujung jalan
Mengajak kembali dalam pelukan keheningan
Sebagian mereka tersentak
Ketika waktu berhenti mendadak
Menyesali segala ucapan dan kehendak
Namun terlambat dan tak mungkin mengelak
Sebagian sempat mendapat ruang
Diberi waktu dan peluang
Kembali berjalan bersama para pejuang
Mengikuti cahaya lentera
Dengan semangat yang menyala-nyata
Bersimpuh menengadahkan kepala
Memohon ampun akan semua dosa
Mensyukuri segala nikmat dunia
Bersabar akan semua ujian dan cobaan
Di sepanjang jalan menuju bahagia
Terus berupaya
Mengikuti cahaya lentera
Secercah asa yang terus dijaga
Berpegang pada etika
Membaca ayat semesta
Bersama sahabat kelana
Menuju pelabuhan swarga loka
Lentera yang meredup tak menghilangkan asa
Tangerang, 10 Oktober 2026
PWMJ-10102026
Ikuti UtusanNews.id di Channel WhatsApp
Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung melalui WhatsApp Anda.
🟢 IKUTI CHANNEL





