JAKARTA — Di tengah dinamika politik nasional yang kerap diwarnai tarik-menarik kepentingan, polarisasi, hingga perbedaan pandangan yang tajam, sosok Sufmi Dasco Ahmad menjadi salah satu figur yang menarik perhatian.
Bagi Sayed Junaidi Rizaldi alias SJR, Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta sekaligus founder Garda Pers Merah Putih, fenomena Dasco tidak semata-mata dapat dilihat dari jabatan formalnya sebagai pimpinan DPR maupun elite Partai Gerindra.
Menurut SJR, kekuatan Dasco justru terlihat dari kemampuannya membangun komunikasi dengan berbagai kelompok, termasuk dengan mereka yang sebelumnya berada di luar lingkar politiknya.
“Saya tidak mengenal Dasco secara dekat. Tetapi kalau melihat fenomenanya dari luar, memang menarik. Konsolidasi politik yang beliau lakukan kepada kawan maupun lawan sangat intens,” ujar SJR.
SJR menilai kemampuan merawat komunikasi dengan berbagai kelompok merupakan salah satu modal penting dalam politik.
“Dalam politik, seribu teman terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak. Saya melihat Dasco memahami betul prinsip itu,” katanya.
Dari Rocky Gerung hingga Syahganda
Salah satu hal yang menurut SJR menarik adalah terbukanya komunikasi Dasco dengan sejumlah tokoh yang selama ini dikenal kritis terhadap pemerintah.
Bagi SJR, fenomena tersebut penting dalam kehidupan demokrasi.
“Orang boleh berbeda pandangan, boleh kritis, tetapi komunikasi jangan ditutup. Justru ketika orang yang berbeda posisi masih bisa duduk bersama dan berdiskusi, itu menunjukkan bahwa ruang politik masih terbuka,” ujarnya.
SJR menegaskan, pertemuan politik tidak otomatis berarti seseorang menjadi bagian dari kelompok atau jaringan politik tertentu.
“Jangan setiap orang yang bertemu Dasco kemudian disebut orang Dasco. Itu terlalu menyederhanakan politik. Relasi politik bisa berupa komunikasi, dialog, bahkan pertukaran gagasan,” katanya.
Dijuluki “Si Kancil”
Fenomena Dasco juga semakin menarik karena munculnya berbagai julukan dan istilah yang melekat pada dirinya.
Mulai dari “Si Kancil”, “Don Dasco”, hingga istilah seperti ADIDAS—Anak Didik Dasco dan KABINDA—Kader Binaan Dasco.
Julukan “Si Kancil” bahkan pernah digunakan Presiden Prabowo Subianto ketika menyebut Dasco dalam pidatonya.
Menurut SJR, munculnya berbagai istilah tersebut menunjukkan adanya persepsi publik dan lingkungan politik terhadap karakter komunikasi Dasco.
“Kancil itu identik dengan kecerdikan dan kelincahan. Saya kira istilah itu muncul bukan tanpa alasan. Dalam politik, kemampuan membaca situasi dan beradaptasi memang penting,” ujarnya.
Raffi Ahmad Sebut Dasco Mentor Politik
Menariknya, fenomena tersebut tidak hanya datang dari kalangan politisi. Raffi Ahmad juga pernah menyebut Dasco sebagai salah satu mentor politiknya.
Bagi SJR, hal itu memperlihatkan bahwa relasi Dasco tidak berhenti pada lingkaran partai politik.
“Kalau seseorang bisa menjadi tempat belajar bagi orang dari latar belakang yang berbeda, itu menunjukkan adanya pengaruh personal dalam membangun komunikasi politik,” katanya.
Namun SJR mengingatkan agar publik tidak melihat hubungan semacam itu secara berlebihan.
Kekuatan Dasco Ada pada Konsolidasi
Menurut SJR, salah satu karakter yang paling terlihat dari Dasco adalah kemampuannya melakukan konsolidasi.
Konsolidasi itu, kata dia, tidak hanya dilakukan terhadap orang yang berada dalam satu barisan, tetapi juga kepada pihak yang berbeda pandangan.
“Kalau lawan bisa diajak bicara, kenapa harus dijadikan musuh permanen. Politik kan dinamis. Hari ini berbeda posisi, besok bisa duduk satu meja membicarakan kepentingan yang lebih besar,” katanya.
Karena itu, SJR melihat gaya politik Dasco sebagai fenomena yang patut dicermati.
“Yang menarik dari Dasco bukan hanya siapa yang berada di belakangnya, tetapi siapa saja yang bisa diajaknya berkomunikasi,” ujarnya.
SJR kemudian berbicara lebih jauh mengenai kondisi politik Indonesia.
Menurutnya, demokrasi membutuhkan perbedaan. Namun perbedaan tersebut harus tetap berada dalam koridor komunikasi dan kepentingan bangsa.
“Demokrasi tanpa perbedaan bukan demokrasi. Tetapi demokrasi juga jangan sampai berubah menjadi permusuhan tanpa akhir,” katanya.
Dalam konteks itulah SJR menilai Dasco memiliki peran dalam menjaga ruang komunikasi politik.
“Saya berani mengatakan, kalau kita bicara tentang kewarasan politik Indonesia saat ini, salah satu yang ikut menjaganya adalah Dasco,” tegasnya.
SJR menambahkan, pernyataan tersebut bukan berarti Dasco tidak boleh dikritik.
“Dasco tetap politisi dan tentu harus bisa dikritik. Tetapi kritik jangan menjadi alasan untuk memutus komunikasi. Justru politik yang sehat adalah politik yang memungkinkan kawan dan lawan tetap bisa duduk bersama,” katanya.
“Seribu Teman Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak”
Bagi SJR, filosofi tersebut menjadi kunci untuk memahami fenomena Dasco.
Menurut dia, Indonesia membutuhkan lebih banyak politisi yang mampu mengelola perbedaan tanpa memperbesar konflik.
“Kalau ada orang yang mampu mempertemukan kelompok yang berbeda, menjaga komunikasi dengan pihak yang kritis, dan mengubah potensi konflik menjadi dialog, itu adalah sesuatu yang penting bagi demokrasi,” katanya.
SJR pun menutup pandangannya dengan satu pesan.
“Politik jangan selalu tentang bagaimana mengalahkan lawan. Politik juga tentang bagaimana mengurangi jumlah lawan dan memperbanyak kawan, tanpa kehilangan prinsip,” pungkasnya.
“Saya mengucapkan Selamat mengingati hari lahir yang ke 59 pada Prof.DR.Ir.H.Sufmi Dasco Ahmad , Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT aamiin ya Allah,” tutup SJR
Ikuti UtusanNews.id di Channel WhatsApp
Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung melalui WhatsApp Anda.
🟢 IKUTI CHANNEL





