Oleh : Sayed Junaidi Rizaldi
Ketua Umum Gerakan Indonesia Gemilang
Sudah empat tahun lebih pembentukan IDSurvey sebagai strategic holding jasa Testing, Inspection, Certification, Consulting, dan Classification (TICCC), publik berhak bertanya, di mana lompatan besarnya ?
Holding ini dibentuk bukan sekadar untuk menyatukan tiga BUMN, PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), PT Sucofindo, dan PT Surveyor Indonesia, ke dalam satu payung organisasi. Tujuan besarnya adalah menciptakan perusahaan kelas dunia yang mampu menjadi pemain utama di industri jasa survei, inspeksi, sertifikasi, dan pengujian. Harapannya tinggi, dukungan pemerintah besar, dan aset yang dimiliki pun tidak sedikit.
Namun hingga kini, gaung transformasi itu belum terasa kuat. Nama IDSurvey justru cenderung tenggelam di tengah riuhnya transformasi BUMN lain yang aktif melahirkan inovasi, ekspansi bisnis, dan terobosan pelayanan. Publik lebih sering disuguhi pemberitaan seremonial dibanding pencapaian strategis yang benar-benar mengubah lanskap industri.
Pertanyaan yang layak diajukan adalah, apa warisan yang ingin ditinggalkan oleh manajemen saat ini ? Apakah hanya menjaga rutinitas organisasi, atau benar-benar menciptakan perubahan yang membuat Indonesia diperhitungkan di tingkat global ?
Holding sebesar IDSurvey tidak boleh terjebak dalam zona nyaman birokrasi. Jabatan direksi bukan sekadar posisi administratif, melainkan amanah untuk menghasilkan nilai tambah. Jika selama masa kepemimpinan tidak lahir inovasi yang berdampak, tidak ada ekspansi pasar yang signifikan, tidak ada terobosan layanan yang dirasakan dunia usaha, maka publik wajar mempertanyakan efektivitas kepemimpinan tersebut.
Sudah saatnya manajemen berhenti merasa cukup dengan laporan internal dan kegiatan seremonial. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil keputusan besar, membangun budaya kerja yang agresif, mempercepat digitalisasi layanan, memperluas pasar internasional, dan menjadikan IDSurvey sebagai pemain yang benar-benar disegani, bukan sekadar holding yang besar di atas kertas.
Kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan, tetapi melalui capaian yang dapat diukur. IDSurvey memiliki modal besar, sumber daya yang kuat, dan dukungan negara. Yang masih menjadi tanda tanya adalah apakah manajemen memiliki keberanian, visi, dan sense of urgency untuk mengubah semua potensi itu menjadi prestasi nyata.
Jika tidak ada perubahan yang signifikan dalam waktu dekat, maka pertanyaan publik akan semakin keras, apakah pembentukan holding ini benar-benar menghasilkan nilai tambah, atau hanya menambah lapisan birokrasi tanpa menghadirkan transformasi yang sesungguhnya ?. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mencatat berapa banyak rapat yang digelar atau seremoni yang dilakukan, melainkan apa warisan nyata yang ditinggalkan bagi bangsa dan negara.
Ikuti UtusanNews.id di Channel WhatsApp
Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung melalui WhatsApp Anda.
🟢 IKUTI CHANNEL







