Jangan mimpi kalau Anda mengira operasi bantuan Tsunami Aceh itu romantis, syahdu, atau lurus seperti skema birokrasi yang direncanakan di Jakarta. Itu kotor, bising, bau solar, dan penuh ironi; tapi justru di sanalah kita menemukan makna sejati dari kata ‘Indonesia’—kata yang sayangnya kini sering hilang di balik tumpukan kertas regulasi yang tak pernah membumi.
Penulis: ET Hadi Saputra, S.H. (05-12-2025)
Salam hormat, Bapak/Ibu.
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, lebih dari dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan sebagai penerbang sipil yang dipanggil negara, ikut berdesakan di lambung pesawat-pesawat tua. Ya, pesawat-pesawat TNI AU yang sudah uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya satu: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring-jaring samping. Telinga kami berdengung oleh raungan mesin turboprop Allison T56.
Jika Anda mau tahu, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma mi instan basi yang tumpah. Bukan bau harum parfume birokrat di briefing room.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) di Aceh saat itu mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot landing. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap, mengatur lalu lintas yang padatnya tidak masuk akal. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawanbtanoa berharap lencana.
Ironi terbesarnya bukan pada bau atau bisingnya. Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. Tentu, Anda kenal siapa Susi Pudjiastuti, bukan? Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur.
Lalu datanglah Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya. Pesawat itu biasanya mengangkut lobster. Tiba-tiba, ia mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Mereka adalah contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, “Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan.” Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu Standard Operating Procedure (SOP) selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil. Bahwa aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
Ikuti UtusanNews.id di Channel WhatsApp
Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung melalui WhatsApp Anda.
🟢 IKUTI CHANNEL







