Mahasiswa Dan Agenda Besar Menyelamatkan Kekayaan Bangsa

Gelombang aksi mahasiswa merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Kampus selalu menjadi ruang lahirnya kritik dan kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan. Namun, di tengah berbagai persoalan bangsa yang semakin kompleks, muncul pertanyaan mendasar: apakah energi perjuangan mahasiswa sudah diarahkan pada sasaran yang tepat?

Ketika masih banyak program yang secara langsung menyentuh kebutuhan rakyat kecil menjadi objek penolakan, justru para perampok kekayaan negara yang menggerogoti perekonomian nasional sering kali luput dari tekanan publik yang masif dan berkelanjutan. Padahal, kerugian yang ditimbulkan oleh praktik korupsi, mafia impor, manipulasi ekspor, hingga penyalahgunaan subsidi jauh lebih besar dan berdampak sistemik terhadap kesejahteraan masyarakat.

Sudah saatnya gerakan mahasiswa mengarahkan sorotan kepada mereka yang selama ini menikmati keuntungan dari kebocoran ekonomi negara. Para koruptor di sektor sumber daya alam, mafia minyak, pelaku under-invoicing ekspor, oknum di sektor kepabeanan yang merusak industri nasional, hingga para penyeleweng solar subsidi seharusnya menjadi target utama tekanan moral dan politik.

Kerugian negara akibat praktik-praktik tersebut bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Setiap rupiah yang dicuri berarti berkurangnya anggaran pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan berbagai program sosial yang dibutuhkan rakyat. Ketika kekayaan negara dirampok, yang paling menderita adalah masyarakat kecil.

Karena itu, tuntutan publik tidak boleh berhenti pada penjara semata. Negara harus berani menerapkan pidana korporasi terhadap perusahaan yang terbukti terlibat, merampas aset hasil kejahatan, dan memiskinkan para pelaku korupsi. Hukuman yang hanya menyasar individu tanpa menyentuh keuntungan ekonomi yang diperoleh dari kejahatan sering kali gagal menciptakan efek jera.

Selain itu, transparansi juga harus ditegakkan melalui audit menyeluruh terhadap laporan pajak, aliran devisa hasil ekspor, serta seluruh jaringan bisnis yang diduga menikmati keuntungan dari praktik-praktik ilegal tersebut. Penegakan hukum yang tegas akan mengirim pesan bahwa negara tidak lagi memberi ruang bagi para penjarah kekayaan bangsa.

Mahasiswa memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan moral bangsa. Oleh sebab itu, keberanian mereka seharusnya diarahkan kepada akar persoalan yang sesungguhnya, yakni praktik-praktik yang menguras kekayaan negara dan menghambat kemakmuran rakyat. Kritik terhadap pemerintah tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan keberanian menuntut penindakan terhadap para pelaku kejahatan ekonomi yang selama ini merugikan bangsa dalam skala besar.

Pada akhirnya, perjuangan yang berpihak kepada rakyat bukanlah perjuangan yang sekadar menolak program-program yang memberi manfaat bagi masyarakat. Perjuangan yang sesungguhnya adalah memastikan setiap rupiah kekayaan negara kembali kepada rakyat, bukan masuk ke kantong segelintir elite yang memperkaya diri melalui berbagai praktik penyimpangan ekonomi.

*Herry Ferdinant/ Barong
*Alumni UPN Veteran Jakarta
*Ketua Umum Aliansi Rakyat Anti Koruptor
*Aktifis 98

DAPATKAN INFORMASI TERBARU

Ikuti UtusanNews.id di Channel WhatsApp

Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung melalui WhatsApp Anda.

🟢   IKUTI CHANNEL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *