Di tengah riuh rendah klaim jasa dalam politik, publik kembali disuguhi narasi lama, siapa sebenarnya yang “menciptakan” seorang presiden.
Pernyataan Jusuf Kalla ( JK ), yang mengesankan dirinya sebagai aktor kunci di balik naiknya Joko Widodo (Jokowi) ke kursi kekuasaan, bukan sekadar nostalgia politik. Ini adalah upaya perebutan kredit sejarah, sesuatu yang kerap terjadi di lingkaran elite, namun sering kali mengabaikan satu faktor utama yaitu rakyat.
Dalam demokrasi, tidak ada satu orang yang bisa “menciptakan” presiden. Jika logika itu dipaksakan, maka kita sedang mereduksi suara jutaan pemilih menjadi sekadar efek samping dari lobi-lobi elite.
Jokowi mungkin didorong, difasilitasi, bahkan dipoles oleh kekuatan politik tertentu. Tapi dorongan tanpa penerimaan publik adalah nol besar. Banyak tokoh yang punya “backing” kuat, tapi tumbang karena tak punya legitimasi rakyat.
Di sinilah pernyataan Jokowi menjadi kontras sekaligus sindiran halus. Ketika ia menyebut dirinya “orang kampung” dan menyerahkan penilaian kepada rakyat, itu bukan sekadar kerendahan hati, itu adalah penegasan bahwa kekuasaan sejati tidak lahir dari klaim, melainkan dari kepercayaan publik.
Yang jadi soal, mengapa klaim seperti JK ini muncul ?
Jawabannya sederhana: karena dalam politik, sejarah adalah aset. Siapa yang berhasil menulis ulang peran masa lalu, berpotensi mengamankan posisi moral di masa depan.
Namun publik hari ini tidak lagi mudah menerima narasi tunggal. Mereka tahu bahwa kemenangan Jokowi adalah kombinasi kompleks, kerja politik, momentum, dan yang paling penting adalah gelombang kepercayaan rakyat yang tidak bisa direkayasa sepenuhnya oleh elite mana pun.
Jika ada yang mengklaim diri sebagai “penentu utama,” maka publik berhak bertanya, apakah demokrasi kita sedemikian rapuh hingga satu figur bisa menentukan segalanya ?
Atau justru pernyataan itu yang menunjukkan betapa sebagian elite masih belum sepenuhnya berdamai dengan kenyataan bahwa di era demokrasi, rakyatlah aktor utamanya, bukan mereka.
Sayed Junaidi Rizaldi
Ketua Umum Rembuk Nasional Aktivis 98
Ikuti UtusanNews.id di Channel WhatsApp
Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung melalui WhatsApp Anda.
🟢 IKUTI CHANNEL











