Pemilihan Rektor UPNVJ, Alumni Jangan Dianggap Sekadar Penonton ( sebuah catatan )

Pemilihan rektor sebuah perguruan tinggi tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai urusan administratif. Di balik proses itu ada keputusan besar tentang masa depan institusi, kualitas akademik, reputasi, jejaring, sumber daya, dan arah universitas dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, mekanisme pemilihan Rektor UPN “Veteran” Jakarta patut dilihat bukan hanya dari sisi prosedural, tetapi juga dari sisi substansi dan representasi.

Saat ini 30 Juli 2026, tahapan pemaparan visi, misi dan program kerja calon rektor sedang berlangsung ketika tulisan ini dibuat dan memberi ruang bertanya kepada lima panelis: dua perwakilan senat, satu dosen, satu tenaga kependidikan dan satu mahasiswa.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mendasar,

Apakah lima perspektif tersebut sudah cukup untuk menguji calon rektor yang nantinya akan memimpin seluruh ekosistem UPNVJ ?

Sebab universitas bukan hanya senat.

Bukan hanya dosen.

Bukan hanya tenaga kependidikan.

Bukan hanya mahasiswa.

Dan universitas juga tidak berhenti ketika seorang mahasiswa menerima ijazah.

Ada alumni.

Justru di sinilah persoalannya.

Tidak adanya perwakilan alumni dalam forum pengujian visi, misi dan program kerja calon rektor membuat mekanisme tersebut terasa kurang lengkap. Bukan karena alumni harus mendapatkan perlakuan istimewa, melainkan karena alumni memiliki perspektif yang tidak dimiliki oleh unsur internal kampus.

Alumni adalah wajah universitas di luar pagar kampus.

Mereka bekerja di berbagai sektor, memegang posisi di pemerintahan, dunia usaha, lembaga negara, organisasi profesi, media, maupun masyarakat. Mereka merasakan langsung bagaimana kualitas dan reputasi UPNVJ dipersepsikan setelah mereka meninggalkan bangku kuliah.

Dengan kata lain, alumni dapat melihat kampus dari perspektif eksternal.

Dan perspektif eksternal itulah yang justru penting ketika calon rektor berbicara mengenai daya saing universitas.

Bagaimana UPNVJ membangun reputasi nasional ?

Bagaimana lulusan diserap dunia kerja ?

Bagaimana alumni dilibatkan dalam pengembangan kurikulum ?

Bagaimana jejaring alumni dikapitalisasi menjadi kekuatan universitas ?

Bagaimana kampus membangun endowment dan sumber pembiayaan alternatif ?

Bagaimana alumni di luar negeri dapat menjadi pintu masuk internasionalisasi ?

Bagaimana hubungan emosional alumni dengan almamater diubah menjadi kekuatan institusional ?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan pertanyaan pinggiran.

Ini justru pertanyaan tentang masa depan universitas.

Jangan Terjebak Demokrasi Prosedural

Di sinilah UPNVJ perlu berhati-hati.

Demokrasi dalam perguruan tinggi jangan berhenti pada pertanyaan: siapa yang secara formal boleh bertanya ?

Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah semua kepentingan strategis universitas sudah memperoleh ruang untuk didengar ?

Sebuah proses bisa saja memenuhi ketentuan formal, tetapi tetap menyisakan ruang kosong secara substantif.

Lima panelis mungkin cukup untuk menjalankan sebuah forum. Tetapi apakah lima panelis tersebut cukup untuk merepresentasikan kompleksitas universitas ?

Itulah yang harus dijawab.

Sebab rektor yang akan dipilih bukan hanya bertanggung jawab kepada mereka yang berada di dalam kampus hari ini. Ia juga membawa nama institusi yang memiliki sejarah, jaringan dan ribuan alumni yang tersebar di berbagai sektor kehidupan.

Maka, memilih rektor tanpa mendengar perspektif alumni adalah seperti menilai sebuah rumah hanya dari ruang tamunya, tanpa melihat bagaimana rumah itu berdiri dan dikenal dari luar.

Alumni Bukan Penonton

Ada kekeliruan cara pandang yang perlu diluruskan, alumni sering dianggap sebagai pihak yang sudah selesai dengan universitas.

Padahal justru sebaliknya.

Alumni adalah salah satu modal sosial terbesar perguruan tinggi.

Hubungan emosional alumni dengan almamater dapat menjadi energi untuk membangun beasiswa, riset, jejaring kerja, mentoring, kerja sama industri, pengembangan kewirausahaan, bahkan reputasi universitas.

Karena itu, calon rektor idealnya diuji bukan hanya tentang bagaimana mengelola sumber daya internal, tetapi juga bagaimana mengorkestrasi sumber daya eksternal.

Di sinilah ukuran kepemimpinan rektor modern.
Rektor bukan sekadar administrator kampus. Ia harus menjadi penghubung antara universitas dengan negara, dunia usaha, masyarakat dan jaringan alumninya.

Jika perspektif alumni tidak pernah diuji dalam forum pemaparan visi dan misi, bagaimana publik bisa mengetahui sejauh mana calon rektor memiliki gagasan konkret mengenai penguatan jejaring tersebut ?

Saatnya Mekanisme Dibuka Lebih Luas
Kritik ini bukan ajakan untuk mengintervensi proses pemilihan rektor.
Bukan pula tuntutan agar alumni memiliki hak menentukan siapa yang harus menjadi rektor.
Ini adalah kritik terhadap kualitas dialog.

Jika lima panelis memang merupakan ketentuan yang harus dipenuhi, tidak ada salahnya membuka ruang tambahan, misalnya pertanyaan tertulis dari alumni, forum khusus calon rektor dengan alumni, atau penyampaian aspirasi alumni yang dapat dijawab secara terbuka oleh seluruh kandidat.
Dengan begitu, proses tetap berjalan sesuai koridor kelembagaan, tetapi perspektif strategis alumni tidak hilang.

Sebab rektor yang baik bukan hanya mereka yang mampu menjawab pertanyaan dari dalam kampus.
Rektor yang visioner adalah mereka yang mampu menjawab pertanyaan dari luar kampus juga.

Apa yang akan dilakukan terhadap alumni ?
Bagaimana menjadikan alumni sebagai kekuatan universitas ?

Dan bagaimana memastikan UPNVJ tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga membangun jejaring manusia yang terus bekerja untuk almamater sepanjang hayat ?

Pertanyaan-pertanyaan itu terlalu penting untuk dibiarkan tanpa ruang.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah alumni harus diberi kursi.
Persoalannya jauh lebih besar:
Apakah UPNVJ sedang memilih seorang rektor untuk sekadar mengelola kampus, atau memilih seorang pemimpin yang mampu menggerakkan seluruh ekosistem universitas ?
Jika jawabannya yang kedua, maka mekanisme pemilihan pun harus berani keluar dari paradigma lama.

Karena universitas yang ingin maju tidak boleh hanya mendengar orang-orang yang berada di dalam pagar kampus. Ia juga harus mendengar mereka yang membawa nama almamater ke luar pagar.
Dan alumni adalah salah satunya.
Kita tunggu tahapan selanjutnya..

*Sayed Junaidi Rizaldi
Ketua Umum Ikatan Alumni UPN Veteran Jakarta periode 2025 – 2030

DAPATKAN INFORMASI TERBARU

Ikuti UtusanNews.id di Channel WhatsApp

Dapatkan berita terbaru dan terpercaya langsung melalui WhatsApp Anda.

🟢   IKUTI CHANNEL

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *